Serba-Serbi Makanan Jawa Kuno

Serba-Serbi Makanan Jawa Kuno

Indonesia memang dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman kuliner yang kaya akan rempah-rempahnya. Tentu saja kaya akan rempah karena negeri Indonesia dianugerahi tanah yang subur dan jalur perdagangan rempah. Untuk sehari-hari olahan daging sapi, ayam, dan ikan tentu saja menjadi hal yang lumrah untuk dijadikan lauk oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, apakah kalian pernah berfikir kira-kira seperti apakah hidangan masyarakat Indonesia khususnya di daerah Jawa pada jaman dahulu?

Beruntung untuk kita, beberapa prasasti, naskah-naskah kuno, serta catatan perjalanan musafir mendokumentasikan makanan dan minuman yang dimakan pada era tersebut dengan cukup jelas. Sehingga dapat menjawab rasa penasaran kita semua.

Kebanyakan data tentang makanan Jawa tercantum dalam prasasti yang umumnya dihidangkan pada upacara penetapan sima (desa bebas pajak). Khususnya pada acara penutup, yaitu acara makan bersama sebagai rangkaian upacara penetapan sima. Salah satu contohnya adalah prasasti Taji yang menyebutkan adanya 57 karung besar, 6 ekor kerbau, dan 100 ekor ayam yang digunakan dalam acara penutup penetapan sima. Kira-kira apalagi sih yang dikonsumsi oleh masyarakat Jawa jaman dahulu?

Serba-Serbi Makanan Jawa Kuno

1. Masakan dari Nasi

Skul Paripurna atau Nasi Tumpeng pasti disajikan dalam perayaan penetapan suatu desa bebas pajak. Beberapa prasasti lain juga menyebutkan Skul Liwet (Nasi yang ditanak dengan pangliwetan), Skul Dinyun (ditanak dalam periuk), juga Skul Matiman (Nasi yang ditim)

2. Masakan dari Hewan Ternak

Seperti yang dicantumkan dalam prasasti Taji, adanya 6 ekor kebau dan 100 ekor ayam yang digunakan dalam acara penetapan sima, tentu saja membuat kita pada konklusi bahwa di jaman dahulu pun masyarakat Jawa sudah mengkonsumsi hewan ternak. Makanan protein hewani yang biasa dikonsumsi antara lain ayam, bebek, angsa, celeng (babi ternak). kerbau, dan juga kambing. Di dalam prasasti disebutkan hewan-hewan tersebut biasanya dimasak dengan cara disayur, namun beberapa juga ada kemungkinan dipanggang.

3. Lalapan

Lalap dari sayuran mentah ternyata memang sudah dari dahulu menjadi favorite banyak orang. Lalapan disebut dengan Rumwahrumwah di dalam prasasti. Ada juga kuluban, yang saat ini diartikan oleh orang sunda sebagai sayuran yang direbus.

Ternyata bahan dasar makanan masyarakat Jawa Kuno tidak terlalu beda dengan yang saat ini kita konsumsi, mungkin hanya berbeda di penggunaan bumbu dapur yang dahulu belum terlalu dikenal oleh sebagian masyarakat.

No Comments

Sejarah Fragrance Di Masa Mesir Kuno

Sejarah Fragrance Di Masa Mesir Kuno

Tahukah kalian bahwa parfum pertama kali digunakan sudah sejak ribuan tahun lalu, bukan pada saat abad ke-18 seperti yang diketahui orang orang sebagai “tahun kelahiran” parfum Eau De Cologne. Melainkan sangat jauh dari sebelum peradaban modern yang kita tahu sekarang ini.

Memang sangat banyak teori tentang asal-muasal parfum pertama kali ada, namun yang paling umum adalah Mesopotamia, Mesir, dan Persia merupakan tempat yang disebut-sebut sebagai pencipta parfum yang paling awal dan pertama di Dunia. Awalnya, parfum digunakan oleh orang Mesir sebagai bagian dalam ritual keagamaan mereka. Saat itu, parfum tidak digunakan dalam bentuk cair melainkan padat. Dan jika disamakan dengan penggunaan pada saat ini, kurang lebih sama seperti pembakaran dupa dan juga peng-aplikasian balm atau salep. Pertama kali minyak wangi yang dipakai langsung ke kulit itu disimpan dan dipakai hanya pada saat ritual keagaaman saja, seperti upacara pembersihan atau persiapan pemakaman.

Sejarah Fragrance Di Masa Mesir Kuno

Berdasarkan sumber terpercaya yakni dari buku-buku peninggal masa lalu, pembuat parfum pertama adalah seorang perempuan asal Mesir yang merupakan kimiawan bernama Tapputi, beliau menciptakan wewangian pertama dengan mur, minyak dan bunga di Babylonian Mesopotamia. Pada 4000 tahun yang lalu, di Mesir, orang-orang mulai menggunakan wewangian bukan hanya untuk sekedar upacara keagamaan namun untuk pakaian sehari-hari. Biasanya fragrance ini digunakan untuk menunjukkan sense of class and wealth di masa lampau, karena masih tidak umum untuk digunakan oleh masyarakat umum Mesir di masa lalu. Dahulu bahkan orang Mesir memiliki dewa parfum yang bernamakan Nefertum. Nefertum sendiri digambarkan mengenakan gaun kepala yang terbuat dari bunga lili, yang kini menjadi salah satu bahan parfum paling umum. Pada saat itu juga, Fragrance dianggap sebagai keringat Sang Dewa Matahari, Ra. Maka dari itulah fragrance juga dikait-kaitkan sebagai atribut suci.

Pada saat yang hampir sama, Orang Persia juga mulai mengagumi fragrance atau wewangian, Namun untuk orang Persia biasanya mereka menggunakan parfum atau fragrance ini untuk simbol status politik, menunjukkan bahwa yang menggunakan parfum ini adalah orang-orang yang memiliki peran penting di politik Persia saat itu. Tidak lama kemudian ketika orang-orang Yunani dan Romawi mengambil alih Persia dan berkenalan dengan parfum yang mulai dilihat sebagai bentuk seni. Perlahan tapi pasti, wewangian menyebar ke seluruh dunia dan pada tahun 1190, saat parfum datang ke Paris, dan bertumbuh secara komersial dan berkembang menjadi industri besar sama seperti slot game online juga merupakan favorite kebanyakan orang yang kita lihat dan rasakan hingga kini.

No Comments

Sejarah Penjajahan Portugis Di Indonesia

Sejarah Penjajahan Portugis Di Indonesia

Sejarah Penjajahan Portugis Di Indonesia – Bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang datang ke Indonesia. Alfonso de Alburqueque bisa dibilang sebagai tokoh yang membuat negara Indonesia dikenal oleh orang Eropa dan dimulainya kolonisasi berabad abad oleh Portugis bersama bangsa Eropa lainnya ,terutama Belanda dan Inggris.

Kedatangan bangsa Portugis di Indonesia awalnya hanya untuk berdagang sehingga disambut dengan baik oleh para penduduk. Namun lama kelamaan bangsa Portugis ingin menguasai Indonesia dengan memonopoli rempah-rempah. Pada saat itu Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan rempah rempah sehingga banyak menjadi incaran para bangsa asing.

Sejarah Penjajahan Portugis Di Indonesia

Sejarah Penjajahan Portugis Di Indonesia

Bangsa Portugis tiba di Malaka pada tahun 1509. Kedatangannya tersebut berawal ketika Raja Portugal mendengar laporan dari para pedagang Asia mengenai kekayaan yang terdapat di Malaka. Raja Portugal akhirnya mengutus Diogo Lopes de Sequeira untuk menemukan Malaka guna menjalin persahabatan dengan penguasanya.

Kedatangan Portugis awalnya disambut baik oleh Sultan Mahmud Syah. Namun para komunitas dagang Islam Internasional yang ada itu meyakinkan Sultan Mahmud bahwa kedatangan Portugis merupakan ancaman. Sultan Mahmud akhirnya memerangi Portugis dan menawan beberapa orang.

Setelah diserang, Portugis berlayar ke laut lepas. Di sana, Portugis mempersiapkan diri. Karena penaklukan merupakan satu-satunya cara yang terbuka bagi Portugis untuk memperkokoh diri.

Di tahun 1511 , Alfonso De Alburqueque melakukan pelayaran dari Portugis menuju Malaka dengan membawa pasukan sekitar 1.200 orang dan 17 atau 18 kapal. Peperangan pun tak terhindarkan. Perang ini berlangsung terus menerus secara sporadis sepanjang bulan Juli dan awal Agustus.

Namun dalam peperangan tersebut , Portugis berhasil meraih kemenangan. Kemenangan tersebut tidak lepas dari adanya masalah internal di pihak Malaka. Portugis pun mempersiapkan pertahanan Malaka. Ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya serangan balik dari orang-orang Malaka.

Setelah berhasil menguasai Malaka , Alfonso memerintahkan kapal kapal untuk melakukan pelayaran mencari kepulauan rempah-rempah. Pada tahun 1512 , Alfonso berhasil menginjakan kakinya di tanah Maluku.

Ujung Aspal: Benteng Yang Ada Di Kota Ternate

Di sana Portugis disambut baik oleh Kerajaan Ternate yang sedang bertikai dengan Kerajaan Tidore. Bahkan mereka diperbolehkan untuk membangun sebuah benteng di wilayah Ternate. Benteng tersebut diberi nama Benteng Sao Paolo.

Selain membantu Kerajaan Ternate melawan Kerajaan Tidore, Portugis secara berlahan mulai memonopoli perdagangan yang ada di Ternate.

Singkat cerita , bangsa Portugis berhasil menguasai rempah rempah di wilayah tersebut yang memang menjadi tujuan utama mereka datang ke Indonesia. Dengan harga beli yang murah , pastinya akan mendapatkan keuntungan yang berlimpah ketika mencapai pasar Eropa dan Amerika.

Mundurnya Portugis Dari Indonesia

Di tahun 1533 , Sultan Ternate mengajak para warga Maluku untuk mengusir Portugis di Maluku. Pada tahun 1570, rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan Hairun dapat kembali melakukan perlawanan terhadap bangsa Portugis, namun dapat diperdaya oleh Portugis hingga akhirnya tewas terbunuh di dalam Benteng Duurstede. Selanjutnya peperangan dipimpin oleh Sultan Babullah selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus angkat kaki dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.

Perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis dimanfaatkan Belanda untuk menjejakkan kakinya di Maluku. Pada tahun 1605 , Belanda berhasil memaksa Portugis untuk menyerahkan pertahanannya di Ambon kepada Steven van der Hagen dan di Tidore kepada Cornelisz Sebastiansz. Tak hanya itu , benteng Inggris di Kambelo, Pulau Seram juga dihancurkan oleh Belanda. ejak saat itu Belanda berhasil menguasai sebagian besar wilayah Maluku dan Portugis diusir ke Timor Timur (sejak 1515).

No Comments

Peristiwa G30S di Kota Salatiga

Peristiwa G30S di Kota Salatiga

Peristiwa G30S di Kota Salatiga – Pada tahun 1962 , Mia Gustam , Istri dari pelukis Sudjojono diminta untuk menjadi anggota penilai lomba kebersihan dan keindahan kota yang membuatnya harus mengelilingi kota kota di Jawa Tengah. Melalui bukunya yang berjudul  Dari Kamp ke Kamp: Cerita Seorang Perempuan, Mia menceritakan tentang segala hal yang ia jumpai di setiap kunjungannya.

Peristiwa G30S di Kota Salatiga

Ketika berbicara soal Salatiga , Mia sama sekali tak mengingat apapun mengenai perlombaan itu. Mia malah mengingat bahwa penduduk Salatiga dan sekitarnya banyak yang berpendirian kiri. Mia menyebut jika sang Walikota Salatiga saa itu , Bakri Wahab merupakan seorang anggota PKI.

Bakri Wahab diketahui menjabat sebagai Walikota Salatiga sejak tahun 1961. Bakri yang berasal dari Pekalongan digambarkan memiliki muka Arab , berbadan gemuk dan berambut keriting. Tempat tinggalnya tak jauh dari kantor CS PKI Salatiga.

Namun anehnya tidak ada banyak catatan mengenai Bakri Wahab. Bahkan fotonya saja tidak terpampang di antara foto mantan walikota di Kantor Walikota Salatiga. Nama Bakri Wahab pun tidak ditemukan dalam arsip kantor walikota.

Menurut buku Nyuwito Pak Noto, biografi rektor pertama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), karya Sumbada, Bakri Wahab tampil dalam dua buah foto. Foto yang pertama menunjukan Bakri sedang mendampingi D.N. Aidit ketika pemimpin PKI itu datang ke UKSW untuk mengisi ceramah “Etika Komunisme”. Foto yang kedua memperlihatkan Bakri sedang mendampingi Mohammad Yamin meresmikan salah satu gedung baru di UKSW. Namun sayangnya buku ini tidak menulis banyak mengenai sang Walikota saat itu.

Bakri Wahab dianggap sebagai walikota komunis. Namun ia bukanlah satu satunya pejabat yang merupakan anggota komunis. Menurut Nugroho dalam Menyintas dan Menyeberang: Perpindahan Massal Keagamaan Pasca 1965 di Pedesaan Jawa, ada beberapa tokoh PKI lainnya yang menjabat sebagai pimpinan dan anggota DPRD. Sebut saja sepreti Ismail, ketua PKI Salatiga, menjabat sebagai Ketua DPRD. Kepala Staf Kodim, Ngarijo, juga seorang anggota PKI.

Walaupun termasuk anggota komunis , namun Bakri tak banyak ambil peran dalam urusan partai. Bahkan menurut John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto , Bakri sama sekali tidak mendukung G30S secara terbuka.

G30S sendiri di Salatiga berbeda dari daerah-daerah lain. Menurut buku A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia, Ben Anderson dan Ruth T. McVey menyebut jika sejumlah peristiwa G30S yang terjadi di Salatiga murni karena alasan militer tanpa partisipasi sipil maupun partai.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 , Dan Korem 073 Kolonel Sukardi dan Letkol Sugiman ditangkap atas perintah Letkol Idris, kepala staf Sukardi. Batalyon 448 yang merupakan kekuatan utama kudeta terpaksa harus ditempatkan di luar kota. Sedangkan untuk unit situs judi slot online terbaik dan terpercaya no 1 pertahanan sipil aktif dalam kapasitas tambahan. Situasi di Salatiga mencekam namun tetap tenang di bawah kendali Letkol Idris.

Pada tanggal 4 Oktober 1965 , tank Pangdam Kodam VII/Diponegoro Mayjen Surjosumpeno yang sebelumnya ditempatkan di Bawen meluncur ke Salatiga. Kolonel Sukardi dan Letkol Sugiman berhasil diselamatkan , namun Letkol Idris bersama rekan terdekatnya lari ke perbukitan. Sedangkan Batalyon 448 yang pro-G30S dilucuti seminggu kemudian. Untungnya tak ada pertumpahan darah dalam peristiwa ini.

Tak diketahui di mana Bakri Wahab selama sebulan terakhir pasca-G30S. Menurut Harian Suara Merdeka, 3 November 1965 , menyebut jika Bakri Wahab telah tertangkap setelah dianggap mengadakan pengusutan. Sejak saat itu nasib Bakri Wabat tak diketahui lagi. Menurut Mia Bustam, sang walikota dibunuh bersama seorang dalang perempuan penggubah lagu “Blonjo Wurung”.

No Comments