Peristiwa G30S di Kota Salatiga

Peristiwa G30S di Kota Salatiga

Peristiwa G30S di Kota Salatiga – Pada tahun 1962 , Mia Gustam , Istri dari pelukis Sudjojono diminta untuk menjadi anggota penilai lomba kebersihan dan keindahan kota yang membuatnya harus mengelilingi kota kota di Jawa Tengah. Melalui bukunya yang berjudul  Dari Kamp ke Kamp: Cerita Seorang Perempuan, Mia menceritakan tentang segala hal yang ia jumpai di setiap kunjungannya.

Peristiwa G30S di Kota Salatiga

Ketika berbicara soal Salatiga , Mia sama sekali tak mengingat apapun mengenai perlombaan itu. Mia malah mengingat bahwa penduduk Salatiga dan sekitarnya banyak yang berpendirian kiri. Mia menyebut jika sang Walikota Salatiga saa itu , Bakri Wahab merupakan seorang anggota PKI.

Bakri Wahab diketahui menjabat sebagai Walikota Salatiga sejak tahun 1961. Bakri yang berasal dari Pekalongan digambarkan memiliki muka Arab , berbadan gemuk dan berambut keriting. Tempat tinggalnya tak jauh dari kantor CS PKI Salatiga.

Namun anehnya tidak ada banyak catatan mengenai Bakri Wahab. Bahkan fotonya saja tidak terpampang di antara foto mantan walikota di Kantor Walikota Salatiga. Nama Bakri Wahab pun tidak ditemukan dalam arsip kantor walikota.

Menurut buku Nyuwito Pak Noto, biografi rektor pertama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), karya Sumbada, Bakri Wahab tampil dalam dua buah foto. Foto yang pertama menunjukan Bakri sedang mendampingi D.N. Aidit ketika pemimpin PKI itu datang ke UKSW untuk mengisi ceramah “Etika Komunisme”. Foto yang kedua memperlihatkan Bakri sedang mendampingi Mohammad Yamin meresmikan salah satu gedung baru di UKSW. Namun sayangnya buku ini tidak menulis banyak mengenai sang Walikota saat itu.

Bakri Wahab dianggap sebagai walikota komunis. Namun ia bukanlah satu satunya pejabat yang merupakan anggota komunis. Menurut Nugroho dalam Menyintas dan Menyeberang: Perpindahan Massal Keagamaan Pasca 1965 di Pedesaan Jawa, ada beberapa tokoh PKI lainnya yang menjabat sebagai pimpinan dan anggota DPRD. Sebut saja sepreti Ismail, ketua PKI Salatiga, menjabat sebagai Ketua DPRD. Kepala Staf Kodim, Ngarijo, juga seorang anggota PKI.

Walaupun termasuk anggota komunis , namun Bakri tak banyak ambil peran dalam urusan partai. Bahkan menurut John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto , Bakri sama sekali tidak mendukung G30S secara terbuka.

G30S sendiri di Salatiga berbeda dari daerah-daerah lain. Menurut buku A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia, Ben Anderson dan Ruth T. McVey menyebut jika sejumlah peristiwa G30S yang terjadi di Salatiga murni karena alasan militer tanpa partisipasi sipil maupun partai.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 , Dan Korem 073 Kolonel Sukardi dan Letkol Sugiman ditangkap atas perintah Letkol Idris, kepala staf Sukardi. Batalyon 448 yang merupakan kekuatan utama kudeta terpaksa harus ditempatkan di luar kota. Sedangkan untuk unit situs judi slot online terbaik dan terpercaya no 1 pertahanan sipil aktif dalam kapasitas tambahan. Situasi di Salatiga mencekam namun tetap tenang di bawah kendali Letkol Idris.

Pada tanggal 4 Oktober 1965 , tank Pangdam Kodam VII/Diponegoro Mayjen Surjosumpeno yang sebelumnya ditempatkan di Bawen meluncur ke Salatiga. Kolonel Sukardi dan Letkol Sugiman berhasil diselamatkan , namun Letkol Idris bersama rekan terdekatnya lari ke perbukitan. Sedangkan Batalyon 448 yang pro-G30S dilucuti seminggu kemudian. Untungnya tak ada pertumpahan darah dalam peristiwa ini.

Tak diketahui di mana Bakri Wahab selama sebulan terakhir pasca-G30S. Menurut Harian Suara Merdeka, 3 November 1965 , menyebut jika Bakri Wahab telah tertangkap setelah dianggap mengadakan pengusutan. Sejak saat itu nasib Bakri Wabat tak diketahui lagi. Menurut Mia Bustam, sang walikota dibunuh bersama seorang dalang perempuan penggubah lagu “Blonjo Wurung”.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *